AD 468 x 60size

Sonder Berbagi

Tuesday, May 31, 2011

Wah! Tahanan China Dipaksa Bermain Game Online

Alih-alih dipekerjakan secara fisik, tahanan di China malah diperintahkan untuk bermain game. Hal inilah yang berlaku di Jixi, sebuah kamp yang mempekerjakan tahanan. Diakui oleh Liu Dali, bukan nama sebenarnya, pada siang hari mereka memecahkan batu dan menggali parit di tambang terbuka di Timur Laut China, dan pada malamnya mereka membunuh setan, bertarung dengan jin, dan melemparkan mantra-mantra.


Tahanan Bermain Game Online (Sumber:Digmlm)


Dikutip dari Guardian, Liu menyampaikan bahwa dirinya merupakan salah satu dari tahanan yang dipaksa bermain game online dan mengumpulkan kredit. Kemudian, sipir penjara akan menukarkannya dengan uang asli. “Bos penjara membuat lebih banyak uang dengan memaksa narapidana untuk bermain games kemudian mereka memaksa orang untuk melakukan pekerjaan manual,” ungkap Liu.

“Ada 300 tahanan yang dipaksa untuk bermain game. Mereka bekerja shift setiap 12 jam di kamp. Saya dengar mereka (sipir penjara) menyebutkan bahwa mereka bisa mengumpulkan pendapatan 5 ribu hingga 6 ribu yuan (6,5 – 7,9 juta Rupiah) setiap harinya,” lanjut Liu.

Permainan ini dilakukan selama 24 jam tiada henti dan komputer pun selalu menyala. Jika Liu tidak menuntaskan target kredit game online, sipir penjara akan menghukumnya secara fisik. “Mereka (sipir penjara) akan membuat saya berdiri dengan tangan diangkat ke udara dan setelah saya kembali ke asrama mereka akan memukul saya dengan pipa plasting,” papar Liu.

Perdagangan mata uang virtual dalam game multiplayer telah sangat merajalela di China. Menurut seorang tokoh dari China Internet Centre, pada 2008 terjadi hampir 16,9 triliun Rupiah tercipta pada perdagangan dari game online di China. Jumlah ini semakin meningkat setiap tahunnya.

Diestimasikan 80 persen penghasil “emas” game online berada di China. Di negara dengan pengguna internet terbesar di dunia tersebut, populasi pemain game online full time diperkirakan mencapai 100 ribu orang. (**)

Sumber: Guardian, 2011 Uniknya.com

No comments:

Post a Comment